Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Malaria serta vector and rodent control, image, image, image, image, image…
Malaria serta vector and rodent control
Peran vektor dalam penularan penyakit
Arthropoda secara umum mempunyai peran terhadap kesehatan manusia
Menularkan atau memindahkan penyakit disebut vektor
Menyebabkan penyakit (parasit atau agent)
Mengandung dan menghasilkan zat racun (toksin)
Menimbulkan dan menyebabkan gangguan (nuisance)
Menimbulkan rasa takut atau ngeri (entomophobia)
Upaya pengendalian vektor umum serta pengendalian vektor khusus penyebab malaria
Vektor Mekanik
Disebut juga penyebaran pasif, dimana pindahnya bibit penyakit yang dibawa vektor kepada bahan-bahan yang digunakan manusia (umumnya makanan). Jika makanan tersebut dimakan, akan timbul penyakit.
Vektor Biologi
Vektor yang membawa agent penyakit dimana agent penyakitnya mengalami perubahan bentuk dan jumlah dalam tubuh vektor.
Terbagi atas tiga berdasarkan perubahan agent dalam tubuh vektor :
Cyclo Propagative
Infeksius agent mengalami perubahan bentukdan tambahan jumlah dalam tubuh vektor maupun dalam tubuh host. Misalnya, plasmodium dalam tubuh nyamuk anopheles betina
Cyclo Development
Infeksius agent mengalami perubahan bentuk namun tidak terjadi pertambahan jumlah dalam tubuh vektor maupun dalam tubuh host. Misalnya microfilia dalam tubuh manusia.
Propagative
infeksius agent tidka mengalami perubahan bentuk. Namun terjadi pertambahan jumlah dalam tubuh vektor maupun dalam tubuh host. Misalnya, Pasteurella pestis dalam tubuh xenopsila cheopsis
malaria
kemampuan terbang nyamuk
Nyamuk bergerak dari tempat berkembang biak ke tempat istirahat kemudian ke tempat hospes tergantung kemampuan terbangnya. Pada umumnya, nyamuk mampu terbang se-jauh 350- 550 meter, misalnya An.sinensis jarak terbangnya mencapai 200 sampai 800 meter, An.barbirostris men-capai 200 sampai 300 meter; tapi dari hasil beberapa penelitian, ada nyamuk yang bisa mencapa 1 - 2 km .
Mekanisme penularan nyamuk penyebab malarua
Penularan secara alamiah (natural infection)
Penularan secara alamiah adalah infeksi parasit malaria yang dimasukan oleh nyamuk anopheles melalui gigitan yang mengandung sporozoit malaria kedalam tubuh manusia.
Penularan yang tidak alamiah
Penularan tidak alamiah adalah penularan malaria bukan melalui gigitan nyamuk Anopheles, terdiri dari :
Malaria bawaan (congenital).
Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria.
Penularan terjadi melalui tali pusat atau placenta.
Secara mekanik
Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para morfinis yang menggunakan jarum yang tidak steril lagi, penderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intravena dengan menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik beberapa pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai (disposable)
Morfologi
Plasmodium Falciparum
Plasmodium vivax
Plasmodium malariae
PHBS
Indikator PHBS
Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
Memberi bayi ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif.
Menimbang bayi dan anak sampai dengan usia 6 tahun secara rutin setiap bulan.
Menggunakan Air Bersih.
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan benar .
Gunakan Jamban Sehat.
Memberantas jentik nyamuk di rumah sekali seminggu secara rutin.
Makan makanan yang sehat dan bergizi.
Melakukan aktifitas fisik setiap hari.
Tidak merokok → mencemari kualitas udara yang dihirup. satu puntung rokok yang diisap, akan dikeluarkan lebih dari 4.000 bahan kimia berbahaya, diantaranya adalah nikotin, tar, dan karbon monoksida
Definisi
PHBS adalah bentuk perwujudan orientasi hidup sehat dalam budaya perorangan, keluarga, dan masyarakat, yang bertujuan untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatannya baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial.
Melalui PHBS diharapkan masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalah sendiri dan dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya
Manfaat PHBS
Meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau dan mampu menjalankan hidup bersih dan sehat. Hal tersebut menjadi penting untuk dilakukan agar masyarakat sadar dan dapat mencegah serta mengantisipasi atau menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang mungkin muncul.
Surveilensi kesehatan
Definisi
Menurut WHO, Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematis dan terus-menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Surveilans kesehatan adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
Ruang lingkup penyelenggaraan sistem surveilans kesehatan
Surveilans kesehatan penyakit menular
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular.
Surveilans kesehatan penyakit tidak menular
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
Surveilans kesehatan lingkungan dan perilaku
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor risiko untuk mendukung program penyehatan lingkungan.
Surveilans masalah kesehatan
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor risiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
Surveilans kesehatan matra
Merupakan analisis terus-menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan faktor resiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra.
Strategi surveilans kesehatan
Advokasi dan dukungan perundang-undangan.
Pengembangan sistem surveilans sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan program secara nasional, propinsi dan kabupaten/kota, termasuk penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit dan bencana.
Peningkatan mutu data dan informasi epidemiologi.
Peningkatan profesionalisme tenaga epidemiologi.
Pengembangan tim epidemiologi yang handal.
Penguatan jejaring survailans epidemiologi.
Peningkatan surveilans epidemiologi setiap tenaga kesehatan.
Peningkatan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi elektromedia yang terintegrasi dan interaktif.
jenis penyelenggaraan surveilans kesehatan
Penyelenggaraan Berdasarkan Metode Pelaksanaan
Surveilans Epidemiologi Rutin Terpadu, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap beberapa kejadian, permasalahan, dan atau faktor risiko kesehatan.
Surveilans Epidemiologi Khusus, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi terhadap suatu kejadian, permasalahan, faktor risiko atau situasi khusus kesehatan.
Surveilans Sentinel, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada populasi dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu populasi atau wilayah yang lebih luas.
Studi Epidemiologi, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada periode tertentu serta populasi dan atau wilayah tertentu untuk mengetahui lebih mendalam gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau faktor risiko kesehatan
Penyelenggaraan Berdasarkan Aktifitas Pengumpulan Data
Surveilans Aktif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi, dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
Surveilans Pasif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi, dimana unit surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
Penyelenggaraan Berdasarkan Pola Pelaksanaan
Pola Kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau bencana.
Pola Selain Kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk keadaan diluar KLB dan atau wabah dan atau bencana.
Penyelenggaraan Berdasarkan Kualitas Pemeriksaan
Bukti klinis atau tanpa peralatan pemeriksaan, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan klinis atau tidak menggunakan peralatan pendukung pemeriksaan.
Bukti laboratorium atau dengan peralatan khusus, adalah kegiatan surveilans dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium atau peralatan pendukung pemeriksaan lainnya.
Malaria
Faktor resiko
Pada prinsipnya setiap orang dapat terinfeksi Plasmodium. Ada beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanan manusia terhadap Plasmodium.
Usia
Jenis kelamin
Ras
Sosial-ekonomi
Status perkawinan
Riwayat penyakit sebelumnya
Perilaku
Keturunan
Status gizi
Dan tingkat imunitas
Definisi
Malaria berasal dari bahasa Italia yaitu mal = buruk dan area = udara. Jadi secara harfiah malaria berarti penyakit yang sering terjadi pada daerah dengan udara buruk akibat lingkungan yang buruk.
Malaria didefinisikan sebagai suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk Protozoa) yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina.
Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium di dalam darah atau di jaringan yang dibuktikan dengan pemeriksaan mikroskopik yang positif, pada tes cepat ditemukan adanya antigen malaria, dan pada pemeriksaan PCR ditemukan DNA/RNA dari parasit.
Etiologi
Penyebab dari malaria adalah parasit Plasmodium yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Plasmodium terdiri dari 5 spesies yaitu
Plasmodium falciparum menyebabkan malaria tropika
Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana,
Plasmodium malariae menyebabkan malaria quartana
Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale
plasmodium knowlesi
Arthropoda borne disease
Vektor penyakit adalah serangga penyebabb penyakit
Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui vector disebut juga Arthropod borne disease atau Vectore borne disease.
Istilah ini mengandung pengertian bahwa artropoda merupakan vector yang bertanggung jawab untuk terjadinya penularan penyakit dari satu host (penjamu) ke host lainnya
Park dan park membagi klasifikasi artropods disease yang sering menyebabkan terjadinya penyakit pada manusia sbg:
🔴Malaria: Plasmodium.
🔴DHF: Dengue
🔴Filariasis: Wuchereria bancrofti
🔴Cholera: Vibrio cholerae
🔴Disentri: Shigella shigae
🔴Tipus: Salmonella typhi
🔴Pest: Pasteurella pestis
🔴Toxoplasmosis: toxoplasma
🔴Ricketsiosis: Ricketsia prowasecki
Jenis vektor
Nyamuk: Culex, Anopheles, Aedes
Lalat: Musca
Kutu/tuma: Pediculus
Pinjal: Xenopsylla, diare, disentri dan types.
Patofisiolgi malaria
Faktor yang mempengaruhi terjadi penyakit malaria
Faktor Host (Manusia)
Ras atau suku bangsa ex: afrika
Kurangnya suatu enzim ex: defisiensi G6PD
Sistem imun
Faktor agen (plasmodium)
Faktor lingkungan
Lingkungan fisik
Suhu: 20-30 derajat celcius
Kelembaban
Curah hujan
Ketinggian
Angin
Sinar matahari
Arus air
Kadar garam
Lingkungan biologik
lingkungan sosial budaya
Faktor lainnya:
Pengetahuan
perilaku
Memakai kelambu
Menggantung pakaian diruangan
Keluar rumah dimalam hari
Penggunaan Obat anti nyamuk
Pekerjaan ex:penebang kayu, petani, peternak, berkebun
Malaria
CMD
Pemeriksaan fisik
Suhu tubuh aksiler ≥ 37,5 °C
Konjungtiva atau telapak tangan pucat
Sklera ikterik
Pembesaran Limpa (splenomegali)
Pembesaran hati (hepatomegali)
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/lapangan/ rumah sakit/laboratorium klinik untuk menentukan
Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).
Spesies dan stadium plasmodium. c) Kepadatan parasit.
Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metoda imunokromatografi.
Anamnesis
Keluhan : demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.
Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria.
Riwayat berkunjung ke daerah endemis malaria.
Riwayat tinggal di daerah endemis malaria.
Penanganan awal
Malaria falsiparum dan Malaria vivaks → Pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini menggunakan ACT (artemisin-based combination therapies) ditambah primakuin.
malaria falsiparum hanya diberikan pada hari pertama saja dengan dosis 0,25 mg/kgBB, dan untuk malaria vivaks selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg /kgBB → Primakuin tidak boleh diberikan pada bayi usia < 6 bulan.
Pengobatan malaria vivaks yang relaps
diberikan dengan regimen ACT yang sama tapi dosis Primakuin ditingkatkan menjadi 0,5 mg/kgBB/hari.
Pengobatan malaria ovale
menggunakan ACT yaitu DHP ditambah dengan Primakuin selama 14 hari. Dengan dosis selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg /kgBB.
Pengobatan infeksi campur P. falciparum + P. vivax/P.ovale
Pada penderita dengan infeksi campur diberikan ACT selama 3 hari serta primakuin dengan dosis 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.
Pengobatan malaria malariae
p diberikan ACT 1 kali perhari selama 3 hari, dengan dosis sama dengan pengobatan malaria lainnya dan tidak diberikan primakuin.
Malaria berat
ditemukannya Plasmodium falciparum stadium aseksual dengan minimal satu dari manifestasi klinis atau didapatkan temuan hasil laboratorium (WHO, 2015):
Perubahan kesadaran (GCS<11, Blantyre <3)
Kelemahan otot (tak bisa duduk/berjalan)
Kejang berulang-lebih dari dua episode dalam 24 jam
Distres pernafasan
Gagal sirkulasi atau syok: pengisian kapiler > 3 detik, tekanan sistolik <80 mm Hg (pada anak: <70 mmHg)
Jaundice (bilirubin>3mg/dL dan kepadatan parasit >100.000)
Hemoglobinuria
Perdarahan spontan abnormal
Edema paru (radiologi, saturasi Oksigen <92%
Gambaran laboratorium :
Hipoglikemi (gula darah <40 mg%)
Asidosis metabolik (bikarbonat plasma <15 mmol/L).
Anemia berat (Hb <5 gr% untuk endemis tinggi, <7gr% untuk endemis sedang-rendah), pada dewasa Hb<7gr% atau hematokrit <15%)
Hiperparasitemia (parasit >2 % eritrosit atau 100.000 parasit /μL di daerah endemis rendah atau > 5% eritrosit atau 100.0000 parasit /μl di daerah endemis tinggi)
Hiperlaktemia (asam laktat >5 mmol/L)
Hemoglobinuria
Gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >3 mg%)