Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
SK 2, 6130019082 Nayla Bayjati Amalia - Coggle Diagram
SK 2
skenario
Seorang anak usia 1 tahun dibawa ibunya pada anda di IRD dengan keluhan kejang
Pem Fisik
Pemeriksaan Vital Sign : 98x/mnt, RR 28x/mnt, suhu 39 oC, TD 110/70 mmHg
Berat badan : 11 kg
Pemeriksaan GCS: Compos Mentis
N
Keadaan Umum : anemia -, icterus -, dyspnea -, sianosis -
Pemeriksaan kepala leher : ubun-ubun datar, mata cowong
Dehidrasi
Pemeriksaan thorax : suara nafas vesikuler kanan kiri , ronki -, suara jantung S1/S2 tunggal, murmur –
Pemeriksaan abdomen : bising usus meningkat, turgor kulit cukup, meteorismus +
Meterorismus( kembung)
Pemeriksaan ekstremitas : akral hangat, oedema –
N
Status neurologis pasien : dalam batas normal
Pemeriksaan meningeal sign : negative
Pemeriksaan nervus cranial
Pem Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Hb 10,6 gr/dl
sedikit rendah
Leukosit 4.900/m3
N
Terdapat Limfositosis
limfosit tinggi
Pemeriksaan radiologi : tidak dilakukan
Pemeriksaan EEG : tidak dilakukan
Pemeriksaan tulang belakang : tidak dilakukan
Pemeriksaan MRI : tidak dilakukan
Anamnesis
Bagaimana kesadaran umum dari pasien? Compos Mentis
Apakah pada pasien terdapat luka? Tidak ada
Apakah pasien mengalami sesak nafas? Tidak ada
Apakah terdapat sakit kepala? Tidak ada
Kejang terjadi pagi sebelum ke IRD hanya sekali
Bentuk kejang kelojotan tangan dan kaki kanan kiri
Kejang tonik-klonik
Lama kejang berkisar 5 menit dan setelahnya berhenti sendiri
Demam tinggi sejak 1 hari sebelum kejang disertai dengan mencret cair
Riwayat kejang sebelumnya terjadi pada usia 7 bulan dengan bentuk yang sama
Riwayat kejang dalam keluarga, ayah pernah kejang pada saat kecil tetapi usia kejang tidak ingat
Riwayat kehamilan, kelahiran dalam batas normal, trauma kepala tidak didapatkan.
Panas 1 hari tinggi, naik turun
Febris intermiten
Masih mau makan dan minum sedikit-sedikit
BAK masih cukup, anak masih mau bermain
Riwayat kejang dalam keluarga +
Riwayat pengobatan : paracetamol dan oralit, Riwayat kehamilan normal, lahir cukup bulan, langsung menangis dan ditolong oleh bidan.
Kejang Demam
Sistem Saraf
Anatomi
SSP
Otak
Diencephalon
thalamus
1 more item...
hypothalamus
1 more item...
Mesencephalon
terdiri dari 2 belahan lateral
1 more item...
Otak Belakang
Pons
2 more items...
Cerebellum
1 more item...
Medulla oblongata
2 more items...
Cerebrum
bagian terbesar otak dan terdiri dari dua hemisperium cerebri yang dihubungkan oleh massa substantia alba yang disebut corpus callosum
4 more items...
Medulla Spinalis
mulai di atas setinggi foramen magnum sebagai lanjutan medulla oblongata
SST
Radix Medullae Spinalis
31 pasang nervus spinalis melalui radix anterior atau motoris, dan radix posterior atau sensoris
Nervus Cranial
Terdapat 12 pasang nervus kranialis
Nervus Olfactorius, Nervus opticus, Nervus Occulomotorius, Nervus Trochlearis, Nervus Trigeminus, Nervus Abducens, Nervus Facialis, Nervus vestibulocochlearis, Nervus glossopharyngeus, Nervus Vagus N, Nervus accessories, Nervus hypoglossus
Definisi
Kejang demam merupakan gangguan neurologis akut yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak disebabkan tanpa adanya infeksi sistem saraf pusat.
Klasifikasi
Kejang demam sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat
kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri
Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal
tidak berulang dalam waktu 24 jam
Kejang demam kompleks
Kejang demam lebih dari 15 menit
kejang fokal atau parsial
kejang berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Pemeriksaan
Fisik
evaluasi neurologis
tingkat kesadaran dan Pemeriksaan N. Cranialis
adanya meningismus (ubunubun yang tegang/ menonjol)
penilaian tanda-tanda meningeal
tanda Kernig atau Brudzinski
setiap kelainan/perbedaan fokal pada kekuatan atau tonus otot harus dicatat
Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain
pemeriksaan darah perifer, elektrolit, dan gula darah
Pungsi Lumbal
untuk menegakkan/ menyingkirkan kemungkinan meningitis
Elektroensefalografi
Tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan epilepsi pada pasien kejang demam
Pencitraan
untuk mendeteksi perubahan fokal yang terjadi baik yang bersifat sementara maupun kejang fokal sekunder
Manifestasi klinis
menurut Prichard dan Mc Greal
Kejang demam sederhana
Usia penderita antara 6 bulan- 4 tahun
Suhu 100 F ( 37,78 C) atau lebih
Lamanya kejang berlangsung selama kurang dari 30 menit
Keadaan neurologi (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga tetap normal
EEG (electro encephalography-rekam otak) yang dibuat setelah tidak demam adalah normal.
Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai kiri yang kejang sama seperti yang kanan
Kejang demam tidak khas
Kejang hanya berlangsung sebentar, tidak lebih dari 15 menit
Kejang bersifat umum
Kejang timbul setalah 16 jam pertama setelah timbulnya demam
Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan
Frekuensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4x
komplikasi
Komplikasi yang paloing umum dari kejang demam adalah adanya kejang demam berulang
Sekitar 33% anaka akan mengalami kejang berulang jika mereka demam kembali
resiko terulangnya kejang demam
Pada kejang yang pertama, anak hanya mengalami demam yang tidak terlalu tinggi
Jarak waktu antara mulainya demam dengan kejang yang sempit
Ada faktor turunan dari ayah ibunya
Tata laksana
Obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang
diazepam
dosis intravena 0,3 – 0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 12 mg/menit atau dalam waktu 35 menit, dengan dosis maksimal 20 mg
evaluasi
• Bila kejang belum berhenti, pasien dirawat diruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, harus ditentukan apakah perlu pengobatan profilaksis atau tidak tergantung jenis kejang demam dan faktor risiko yang ada pada anak tersebut
• Bila kejang belum berhenti, berikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 20 mg/kg/kali kali dengan kecepatan 1 mg/kg/ menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti, dosis selanjutnya 4 – 8 mg /kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal
• Bila kejang belum berhenti, diulang dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit
• Bila masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dirumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/kg
Dirumah
Diazepam rektal
dosis 0,5 – 0,75 mg/kg
10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg
5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg
5 mg untuk anak di bawah usia 3 tahun
7.5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun
Pencegahan
pendidikan kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek ibu tentang pencegahan kejang demam pada anak
Edukasi
• Tetap tenang dan tidak panik.
• Longgarkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
• Bila tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring.
• Ukur suhu, observasi, catat lama dan bentuk kejang.
• Tetap bersama pasien selama kejang.
• Berikan diazepam rektal. Jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
• Bawa ke dokter atau ke rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
Pada Anak yang kejang
dimiringkan agar jtidak terjadi aspirasi ludah/ lendir dari mulut
jalan nafas dijaga agar tetap terbuka
jaga suplai oksigen tetap terjamin
Fungsi vital, keadaan jantung, tekanan darah, kesadaran perlu diikuti dengan seksama
Suhu yang tinggi harus segera diturunkan dengan kompres dan pemberian antipietik
Pemberian Obat Pada Saat Demam
Antipiretik
parasetamol
ibuprofen
Antikonvulsan
diazepam oral/rektal
Fenobarbital
Fisiologi
penyebab
transmisi pada sinaps
gangguan fungsi neuron-neuron otak
kenaikan suhu tubuh sebanyak 1℃
kenaikan kebutuhan metabolisme basal 10-15%
menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan dari membran sel neuron
terjadi difusi dari ion Kalium maupun
ion Natrium melalui membran
terjadinya lepasan muatan listrik
1 more item...
kebutuhan oksigen meningkat sebanyak 20%
Etiologi
Faktor genetika
25-50% menurun dari orang tua ke anak
Penyakit infeksi
bakteri dan atau virus
Demam
cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada waktu sakit dengan demam tinggi
Gangguan metabolisme
seperti uremia, hipoglikemia, kadar gula darah kurang dari 30mg%, dll
Trauma
Neoplasma toksin
Gangguan sirkulasi
Penyakit degeneratif susunan saraf
Patofisiologi
penyebab terbanyak kejang demam
terjadi pada infeksi luar kranial dari bakteri
Toksik yang dihasilkan menyebar ke seluruh tubuh secara hematogen ataupun limfogen.
suhu di hipotalamus, otot, kulit,dan jaringan tubuh naik
mengeluarkan mediator kimia berupa epinefrin dan prostaglandin
1 more item...
Patogenesis
Peningkatan temperatur dalam otak
menghasilkan sitokin yang merupakan pirogen endogen
jumlah sitokin akan meningkat seiring kejadian demam dan respons inflamasi akut
Respons terhadap demam biasanya dihubungkan
interleukin-1 (IL-1)
1 more item...
lipopolisakarida (LPS)
1 more item...
Reaksi sitokin ini mungkin melalui sel
endotelial circumventricular
1 more item...
DD
Meningitis
bakterialis akut
Gejala berupa demam, nyeri kepaJa, dan kaku kuduk.
Penurunan kesadaran sering terjadi , mulai dari letargi-koma
mual, muntah, dan fotofobia
Ensefalitis
sering ditemui perubahan kesadaran (bingung, gangguan perilaku)/ penurunan tingkat kesadaran (letargi ringan-koma)
adanya tanda/ gejala neurologis fokal atau difus
mengalami disorientasi dan halusinasi sebagai akibat dari peningkatan tekanan intrakranial
Epilepsi
terdapat dua kejadian kejang tanpa provokasi yang terpisah lebih dari 24 jam
terdapat satu kejadian kejang tanpa provokasi
sindrom epilepsi (berdasarkan pemeriksaan EEG)
Abses otak
Gejala utamanya ialah nyeri kepala yang menetap, terasa tumpul, berdenyut, baik hemikranial maupun generalisata, serta bersifat progresif
Gangguan metabolik
Hiponatremia, Hipernatremia, Hipoglikemia, Hipoksemia
6130019082 Nayla Bayjati Amalia