1989 (Berdirinya BD+A Design)
Berawal dari kehamilan anak keduanya, Irvan mendirikan firma desain BD+A untuk mengorganisir pekerjaan dengan skala besar. Berbekal relasi istrinya dengan bank-bank di Jakarta, debut dari BD+A adalah mendesain identitas brand Bank Bumiputera. Idealisme Irvan menjadi kentara dalam proyek debut ini, di mana Irvan bersikeras bahwa hasil akhir produk desain tidak bisa hanya logo saja, tetapi sistem terpadu yang dapat membantu mengefektifkan pekerjaan serta pelayanan nasabah. Sistem ini diatur dalam sebuah branding book/ guidelines dengan sistem pelayanan perbankan Bank Bumiputera.
BD+A tumbuh menjadi firma desain ternama di Indonesia dengan clientele yang beragam mulai dari perbankan, penerbangan, ritel, telekomunikasi, properti, otomotif, dan lainnya. BD+A juga menangani kampanye pemerintah seperti "Visit Indonesia Decades", pengembangan daerah Kota Pekalongan, sera pekerjaan-pekerjaan interior seperti Museum Bank Indonesia, Stasiun Railink Kualanamu, dan Terminal Keberangkatan & Kedatangan Domestik Bandara Ngurah Rai Bali.
1995 - 2000an (Irvan Noe'man, kolaborator, organisator dan guru desain)
Melihat kebutuhan kolaborasi dan afirmasi desain Indonesia di Indonesia sendiri, Irvan dengan BD+A mempraktikkan implementasi desain multidisiplin dan kolaborasi dengan desainer lintas negara. Tahun 1995, BD+A berafiliasi dengan EURO RSCG Design, sebuah mega-agency di Paris.
Dengan pengetahuan yang holistik di bidang desain, Irvan dipercaya untuk menjadi pengajar dan mengepalai Jurusan Desain di Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Paramadina.
Irvan Noe’man banyak terlibat dalam asosiasi desain dan berperan aktif dalam penyusunan wacana desain dan diseminasi ilmu desain pada para desainer dan publik. Lewat semangat kolaborasinya, Irvan Noe’man terlibat dalam asosiasi-asosiasi desain seperti ADGI (Desain Grafis), HDII (Desain Interior) dan ADPII (Desain Produk). Irvan Noe’man terlibat dalam merampungkan perjalanan panjang pendirian Pusat Desain Nasional di tahun 1995, yang sayang sekali kini sudah hilang kembali termakan birokrasi pemerintahan. Ia juga membentuk FGD Forum untuk menghidupkan usaha grafika di Indonesia, hingga membuahkan FGD Expo.
Pasca-krisis moneter Asia, di tahun 2001, dibentuklah The Design Alliance Asia (tDA Asia) yang melibatkan 12 negara di Asia, yang memungkinkan desainer berkolaborasi lintas regional dan menyatukan portofolio bersama.
2006 – 2010an (Pengambangan Wacana Desain Lebih Jauh) - Design Forecasting
Pada tahun 2008, Irvan aktif menyelenggarakan workshop design trend forecasting bagi para pelaku industri kreatif agar lebih banyak insan kreatif yang dapat membaca arah perubahan pola pikir masyarakat ke depannya sehingga bisa dimanfaatkan dalam dalam proses kreatif mereka untuk menghasilkan karya atau produk yang relevan dengan arah perkembangan zaman dan meningkatkan potensi untuk laku di pasar.
Selanjutnya, BD+A secara konsisten meriset dan merilis trend forecast dalam dunia desain. BD+A seakan menjadi laboratorium bagi Irvan mengaplikasikan hasrat keingintahuan dan sikap visionernya untuk berkontribusi pada lompatan dunia desain Indonesia. Dengan kemampuan design forecasting, para desainer tidak lagi menjadi sekedar trend-follower, tapi dapat memantik tren desain baru dan khas sehingga turut berpartisipasi dalam pembentukan wacana desain dunia.
2006 – 2010an (Pengambangan Wacana Desain Lebih Jauh) – Pemberdayaan Desain oleh Pemerintah
Belajar dari periode sebelumnya, di mana penggalangan ekosistem kreatif dimulai secara organik dan mandiri oleh asosiasi-asosiasi, Irvan merasa perlu untuk menodong pemerintah untuk ikut mengembangkannya. Tahun 2006, ia mendirikan Indonesian Design Power di bawah Departemen Perdagangan RI, seraya sadar bahwa diperlukan sikap politis untuk mencapai ekosistem kreatif yang ideal.
Lewat FGD Expo yang berhasil menyatukan ekosistem desain Indonesia, Irvan turut berperan dalam lahirnya event Ideafest tahun 2011. Ideafest adalah event kreatif terbesar yang mempertemukan para pakar industri kreatif dengan pihak yang ingin mendalami industri ini dengan lebih fokus. Ideafest juga ditujukan untuk momen kolaborasi ide, gagasan, hingga acuan kreatif yang bisa dijadikan inspirasi antar praktisinya dan mereka yang ingin memulai bisnis kreatifnya sendiri. Gerakan besar ini menjadi acuan penting bagi publik dalam melihat dunia kreatif.
Irvan giat mengadvokasi dan mengutarakan pemikirannya terkait persoalan desain yang saling terintegrasi dengan pemerintah. Beberapa posisi konsultan telah dijalankannya, ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta tahun 2013.
2008 (Pilot Project – BCCF sebagai Ekosistem Kreatif Terpadu berbasis Kota)
Irvan membaca keperluan untuk memulai gerakan sistematik dan branding identitas atas sesuatu yang masif. Bersama teman-temannya di Bandung, ia mendirikan Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk menaungi berbagai komunitas kreatif yang menjadi basis kekuatan kota. Untuk memperkuat citra kota Bandung, Irvan Noe’man juga mempersembahkan branding khusus untuk Kota Bandung (.bdg).
Ia menempatkan posisi Bandung sebagai kota kreatif internasional yang menjadi pusat trend, berkembang, menginspirasi, serta terus membangun jaringan untuk membagikan pengalaman dan peluang-peluang. Melalui semangat bimbingannya, muncul festival Kota Bandung tahunan yang kita kenal, yakni Helarfest. Sejak akhir 2015, Bandung resmi terdaftar sebagai UNESCO Creative City.
-
Kata kunci : kota kreatif, ekosistem kreatif masif, festivity
Kata kunci: integrasi ekosistem kreatif dan pemerintah, advokasi kebijakan publik terkait dunia kreatif, pemberdayaan industri kreatif untuk ekonomi nasional
Kata kunci: perkembangan teknologi, tren desain global, visioner, riset desain
Kata kunci: kolaborasi, aliansi, ekosistem desain, edukasi, regenerasi desainer, krisis, desain lintas-regional.