Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Skizofrenia - Coggle Diagram
Skizofrenia
Klasifikasi skizofrenia menurut DMS IV
tipe disorganisasi
waham tidak sistematis
perilaku disorganisasi
sering inkoheren
afek tumpul
tipe katatonik
rigiditas katatonik yaitu pasien tubuhnya kaku atau rijit
postur katatonik yaitu pasien memetahankan posisi yang tidak biasa
Negativisme katatonik yaitu pasien melawan perintah-perintah
kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira
stupor katatonik yaitu pasien tidak berespons terhadap lingkungan atau orang
tipe paranoid
tidak kooperatif dan sulit untuk di ajak kerjasama
mungkin agresif
dijumpai waham
marah, ketakutan, perilaku disorganisasi
sering paranoid
gejala konsisten
waham dan halusinasi menonjol sedangkan afek dan pembicaraan hampir tidak terpengaruh
tipe tak terinci
waham
gejala-gejala psikosis aktif yang menonjol (misal; kebingungan, inkoheren)
halusinasi
tipe residual
pikiran tak logis
asosiasi melonggar
menarik diri secara sosial
deprsi pasca skizofrenia
beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada tapi tidak mendominasi gambaran klinisnya, yaitu:
gejala positif dan gejala negaif
suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan gangguan skizofrenia
skizofrenia simpleks
skizofrenia simpleks adalah suatu diagnosis yang sulit dibuat secara meyakinkan karena bergantung pada pemastian perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari gejala "negatif" yang khas dari skizofrenia residula tanpa adanya riwayat halusinasi, waham,
skizofrenia lainnya
skizofrenia siklik
skizofrenia laten
skizofrenia senestopatik
Skizofrenia
Etiologi
Model Diatesis – Stres
faktor biologis, psikososial, dan lingkungan
b. Faktor Biologik
Hipotesis dopamine
Gejala positif peningkatan aktifitas dopamin limbik
Gejala negative penurunan dopamine prontal
Faktor resiko
Masalah kesehatan misalnya kurang tidur, penyakit infeksi, keletihan, dll
Masalah lingkungan dan masalah keluarga, misalnya rasa bermusuhan/dimusuhi lingkungan, stress dengan lingkungan tempat tinggal, kesepian, dihina oleh orang lain, tekanan pekerjaan, dll
Masalah sikap/perilaku misalnya kurang percaya diri, merasa gagal, keterampilan bersosialisasi kurang, dll
Defenisi
Gangguan skizofrenia adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan kekacauan pada realitas, waham dan halusinasi, disertai dengan gangguan asosiasi yang ditandai dengan adanya gangguan pembicaraan.
tatalaksana skizofrenia
farmakologi
Haloperidol : 1,5 mg 3x1 EPS Triheksipenidil (THP)
Risperidon : 2mg 2x1/2 Sindroma Metabolik
non farmakologi
psikoterapi
Tujuannya adalah agar penderita menyadari, memahami, dan beradaptasi dengan kondisinya. Dengan begitu, pasien bisa beraktivitas kembali.
Terapi perilaku kognitifTerapi perilaku kognitif bertujuan mengubah perilaku dan pola pikir pasien. Kombinasi terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, akan membantu pasien memahami pemicu halusinasi dan delusi, serta mengajarkan pasien cara mengatasinya.
Terapi remediasi kognitifTerapi ini mengajarkan pasien cara memahami lingkungan sosial dan mengendalikan pola pikirnya, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam memperhatikan atau mengingat sesuatu.
Terapi pendidikan keluargaPada terapi ini, psikiater akan mengajarkan keluarga dan teman pasien bagaimana berinteraksi dengan pasien. Salah satu caranya adalah dengan memahami pola pikir dan perilaku pasien.
Terapi pemaparan (desensitisasi)Terapi ini membantu pasien membangun rasa optimisme dan keyakinan positif tentang diri sendiri dan orang lain.
Terapi elektrokonvulsifTerapi ini menggunakan elektroda dengan arus listrik rendah. Terapi elektrokonvulsif merupakan metode yang terkadang digunakan jika skizofrenia tidak membaik setelah pemberian obat-obatan. Terapi ini juga bisa meredakan gejala depresi berat.
farmakologi obat anti psikotik
Antipsikotik
terbagi:
Antipsikotik konvesional/ gol pertama yaitu dopamin reseptor antagonis , efektif pada simtom positif, contohnya : haloperidol dan clorpromazin
Antipsikotik generasi ke dua atau Serotonin Dopamine Antagonists (SDAs), efektif pada simtom positif dan negatif, contohnya : risperidon, quetiapin, clozapin, dan aripripazol.
EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK TIPIKAL
Mulut kering, penglihatan kabur, konstipasi, penurunan kognitif
Peningkatan BB
HIPOTENSI ORTOSTATIK
Sindroma neuroleptic maligna
Parkinsonism tremor, rigiditas, perlambatan motoric,air liur
Tardive diskinisia : Gerakan wajah dan lidah mengunyah terus, menjulurkan lidah
Klasifikasi simtom, dibagi dalam 4 ranah utama
simtom negatif: kurangnya ekspresi emosi dan fungsi mental, misalnya: efek tumpulm avolisi, alogia, anhedonia dan defisit interaksi sosial
simtom afektif, misalnya mood depresi dan ansietas
simtom positif : halusinasi, waham, pembicaraan dan perilaku disorganisasi
simtom kognitif, misalnya defisit memori kerja, episodik, etensi, verbalisasi, dan fungsi eksekutif
referensi
Kaplan, H., I.,& Sadock, B., J.,(2017). Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta: Widya Medika.
Minister Supply & Service Canada.,(2005). Skizofrenia. Sebuah Panduan Bagi Keluarga Penderita Skizofrenia. Yogyakarta: Cv. Qalam.
Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
World Health Organization. Schizophrenia and public health.Geneva:Division of Mental Health and Prevention of Substance Abuse World Health Organization; 2003.
Castle D, Tran N. Psychiatric Medication Information. St Vincent’s Hosp Melb. 2009.
Hafifah A, Puspitasari IM, Sinuraya RK. Review Artikel : Farmakoterapi dan Rehabilitasi Psikososial pada Skizofrenia. Farmaka. 2018;16(2):210-232.
Diagnosa banding keluhan sering berbicara sendiri dan mendengar suara-suara
Skizoafektif
Skizoafektif adalah adanya episode depresi mayor, manik, atau campuran yang muncul bersamaan dengan gejala-gejala skizofrenia
Gejala klinis:
Perasaan sedih
Hilang minat
Onset: paling sedikit 2 minggu
Rasa senang berlebihan (onset: 1 minggu)
Gejala-gejala tersebut muncul bersamaan dengan pembicaraan kacau, waham, halusinasi, perilaku kacau, gejala negatif
depresi
Gejala Utama
Mood depresif
Hilang minat
Mudah lelah
Gejala Tambahan
Konsentrasi menurun
Nafsu makan menurun
Gangguan tidur
Tidak percaya diri
Selalu merasa bersalah
Pesimis
Rasa ingin bunuh diri
Kriteria diagnosis berdasarkan PPDGJ III
Episode Depresif Ringan
(2 gejala utama (paling sedikit) ditambah 2 gejala tambahan (paling sedikit) yg sudah berlangsung 2 minggu)
Episode Depresif Sedang
(2 gejala utama (paling sedikit) ditambah 3 gejala tambahan (paling sedikit) yg sudah berlangsung 2 minggu)
Episode Depresi Berat tanpa gejala psikotik
(3 gejala utama (paling sedikit) ditambah 4 gejala tambahan (paling sedikit) yg sudah berlangsung 2 minggu)
Episode Depresi Berat dengan gejala psikotik
(Memenuhi kriteria episode depresi berat, disertai waham, halusinasi, atau stupor depresif)
gangguan psikotik
Pedoman Diagnostik PPDGJ III
Onset akut (2 minggu atau kurang)
Sindrom yang khas polimorfik
Tidak selalu ada stres akut
Tidak ada penyebab organik (misal: trauma kapasitas, delirium)
Tidak memenuhi kriteria episode manik atau episode depresif
Tidak diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung
Depresi Pasca Skizofrenia
Pasien telah mengalami gangguan skizofrenia sedikitnya dalam masa 12 bulan + Gejala-gejala depresif sangat menonjol dan menggangu, dan memenuhi kriteria episode depresif paling sedikit 2 minggu
Sizofrenia
Cara menegakkan diagnosis
kriteria diagnostik skizofrenia menurut DSM 5
2 atau lebih gejala berikut, berlangsung paling sedikit 1 bulan. Paling sedikit 1 dari gejala berikut yaitu (1), (2), (3)
pembicaraan disorganisasi (misal: inkoheren)
Perilaku disorganisasi berat atau katatonik
halusinasi
simtom negatif (berkurangnya ekspresi emosi atau avolisi)
waham
tanda-tanda, secara terus-menerus,menetap paling sedikit 6 bulan.
harus telah disingkirkan gangguan skizoafektif dan depresi atau gangguan bipolar dengan ciri psikotik
tidak terdapat secara bersamaan dengan episode manik atau depresi selama simtom fase-aktif
bila terdapat episode mood selama fase-aktif, is harus terlihat dalam minoritas durasi total periode aktif atau residual penyakit
gangguan yang terjadi tidak disebabkan oleh afek fisiologik zat (misal: penyalahgunaan zat atau medikasi) atau kondisi medik lainnya
jika terdapat riwayat gangguan spektrum autisme atau gangguan komunikasi awitan masa anak
edukasi
Mengusahakan agar memiliki waktu tidur yang cukup
Melakukan olahraga secara teratur
Mengelola stres dengan cara yang postif
Menjaga interaksi sosial dan mengikuti aktivitas yang melibatkan banyak orang
Menerapkan pola hidup sehat, seperti menghentikan kebiasaan merokok, minuman beralkohol, dan tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang
pencegahan
Ceritakan dengan keluarga, teman, atau psikolog tentang kecemasan atau hal-hal yang membuat Anda trauma.
Perbanyak aktivitas sosial yang positif.
Jangan mengonsumsi alkohol, rokok, dan NAPZA.
Terapkan pola hidup sehat, dengan berolahraga, tidur cukup, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.