Kejang Berulang

Kelistrikan Otak

penghantaran impuls melaui saraf

pengantaran melalui sinaps

potensial aksi

klasifikasi kejang

kejang umum

kejang parsial

kejang yang belum dapat di klasifikasikan

definisi epilepsi

Epilepsi merupakan manifestasi gangguan fungsi otak dengan berbagai etiologi, dengan gejala tunggal yang khas, yaitu kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik neuron otak secara berlebihan dan paroksimal

etiologi epilepsi

kejang fokal

trauma kepala

stroke

infeksi

malformasi vaskular

tumor

kejang umum

penyakit metabolik

reaksi obat

idiopatik

faktor genetik

kejang fotosintetif

faktor risiko

natal

prenatal

post natal

kejang demam

trauma kepala

infeksi ssp

gangguan metabolik

asfiksia

BBLR

kelahiran prematur

partus lama

usia ibu masih muda

eklamsia

pri mipara/multipara

CMD

Anamnesis

.

Pola / bentuk serangan

Lama serangan

Gejala sebelum, selama, dan sesudah serangan Frekuensi serangan

Faktor pencetus

Ada / tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang

Usia saat terjadinya serangan pertama

Riwayat kehamilan, persalinan, dan perkembangan

Riwayat penyakit, penyebab, dan terapi sebelumnya

Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga

tanda dan gejala

prodormal

kehilangan kesadaran

gemetar

otomatisme gerakan

laserasi lidah dan inkontinensia urin

pemfis

vital sign : takikardi

kaku kuduk +

gerakan neurokutan +

pemeriksaan penunjang

Elektroensefalografi (EEG)

Asimetris irama dan voltase gelombang pada daerah yang sama di kedua hemisfer otak

2) Irama gelombang tidak teratur, irama gelombang lebih lambat dibanding seharusnya

3) Adanya gelombang yang biasanya tidak terdapat pada anak normal, misalnya gelombang tajam, paku (spike), paku-ombak, paku majemuk, dan gelombang lambat yang timbul secara paroksimal

Neuroimaging

Tata Laksana

ada tahap terapi awal, benzodiazepin (khusus midazolam IM, lorazepam IV, atau diazepam IV) dianjurkan sebagai terapi awal.

Pada tahap kedua, pilihan termasuk IV fosphenytoin, asam valproik, atau levetiracetam. Jika tidak ada tersedia, fenobarbital IV adalah alternatif yang masuk akal.

Pada tahap ketiga, jika pasien mengalami 40 + menit dari aktivitas kejang, pertimbangan perawatan harus mencakup mengulangi terapi lini kedua atau dosis anestesi thiopental, midazolam, pentobarbital, atau propofol

pertolongan pertama

Jauhkan penderita dari benda - benda berbahaya (gunting, pulpen,kompor)

Jangan pernah meninggalkan penderita.

Berikan alas lembut di bawah kepala agar hentakan saat kejang tidak menimbulkan cedera kepala

Miringkan tubuh penderita ke salah satu sisi supaya cairan dari mulut dapat mengalir keluar dengan lancar dan menjaga aliran udara atau pernapasan

Pada saat penderita mengalami kejang, jangan menahan gerakan

Jangan masukkan benda apapun ke dalam mulut penderita, seperti memberi minum, menahan lidah

Setelah kejang selesai, tetaplah menemani penderita. Jangan meninggalkan penderita sebelum kesadarannya pulih total, kemudian biarkan penderita beristirahat atau tidur.

DD epilepsi

Syncope dapat terjadi Bersama kondisi inkontinensia dan gerakan ekstremitas yang bersifat involunter, sehingga dapat disalah artikan sebagai kejang.

gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan kondisi pingsan seperti kejang adalah transient atrioventricular (AV) blocks, sindrom Brugada, dan gelombang QT yang memanjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan terjadinya episode ventrikular takikardi atau fibrilasi ventrikel

non-epileptic attack disorder
Pada gangguan ini umumnya pasien akan melakukan Gerakan tidak beraturan pada bagian kepala dan pelvis, dengan kedua mata yang cenderung menutup. Saksi mata umumnya akan mengira ini adalah kejang tonik-klonik. Gerakan dapat berlangsung dalam waktu lama tetapi pasien akan pulih dalam waktu yang relatif cepat tanpa adanya reaksi postictal.

Komplikasi dan prognosis

status epileptikus

udden unexpected death in epilepsy (SUDEP)

prognosis sangat bergantung pada tipe epilepsi serta sindrom epilepsi yang diderita, prognosis untuk tiap pasien bisa berbeda