Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
PBL (BAYI, BALITA, DAN ANAK PRA SEKOLAH), MINDMAP KELOMPOK A2 PSKB A 2018 …
PBL (BAYI, BALITA, DAN ANAK PRA SEKOLAH)
LO 1 : DEFINISI
Melebihi suhu normal (>37,5 C) -> melawan infeksi yang masuk
Kenaikan set point (infeksi) ketidakseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas -> hipotalamus
Suhu diatas 37.2 C -> pertahanan non spesifik -> perubahan suhu
Mekanisme kehilangan panas adaah vasodilatasi dan berkeringat
Infeksi, penyakit autoimun, keganasan, obat-obatan
Berperan dalam perkembangan imunitas spesifik dan non spesifik dalam pertahanan infeksi
Perlu edukasi mengenai demam dan pemberian obat penurun demam
Sering terjadi
overtreatment
demam pada anak
Ketakutan disebut
fever phobia
Terlalu takut akibat demam yang tidak tertangani dengan baik seperti kejang, kerusakan otak, dll
LO 2
KLASIFIKASI
Menurut Nurafif dalam Herlina (2020)
Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat
Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal
Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari.
Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat
Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.
TANDA GEJALA
Menurut WHO 2016
Keadaan umum dan tanda vital
Napas cepat
Kuduk kaku
Ruam kulit: makulopapular
Manifestasi perdarahan pada kulit: purpura, petekie
Selulitis atau pustul kulit
Cairan keluar dari telinga atau gendang telinga merah pada pemeriksaan otoskopi
Pucat pada telapak tangan, bibir, konjungtiva
Nyeri sendi atau anggota gerak
Nyeri tekan lokal
Menurut Nurarif 2015
Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,5⁰C - 39⁰C)
Kulit kemerahan
Hangat pada sentuhan
Peningkatan frekuensi pernapasan
Menggigil
Dehidrasi
Kehilangan nafsu makan
Manifestasi
Klinis
• Nyeri kepala.
• Nyeri retro-oebital.
• Mialgia / artralgia.
• Ruam kulit.
• Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bending positif).
• Leukopenia.
pemeriksaan serologi dengue positif, atau ditemukan pasien DD/DBD yang sudah di konfirmasi pada waktu dan lokasi yang sama
Menurut ICHRC
LO 3 : ETIOLOGI
Pirogen Non-Mikrobial
Fagositosis
bertanggung jawab untuk terjadinya demam dalam proses transfusi darah dan anemia hemolitik imun
Monosit dan makrofag berasal dari granulocyte-monocyte colonyforming unit (GM-CFU) dalam sumsum tulang
kemudian memasuki peredaran darah untuk tinggal beberapa hari sebagai monosit yang beredar atau bermigrasi ke dalam jaringan yang akan berubah fungsi dan morfologi menjadi makrofag yang berumur beberapa bulan
Sel-sel ini berperan penting dalam pertahanan tubuh termasuk diantaranya merusak dan memakan mikroba, mengenal antigen, dan mempresentasikannya untuk menempel pada limfosit, aktivasi limfosit-T, dan destruksi sel tumor
Kompleks antigen antibodi
reaksi hipersensitifitas
tersensitisasi (immune fever) atau oleh antigen yang diaktivasi sel-T untuk memproduksi limfokin
merangsang monosit dan makrofag untuk melepas IL-1
Steroid
bersifat pirogenik bagi manusia
Ethiocholanolon dan metabolik androgen merangsang pelepasan IL-1
Ethiocolanolon memproduksi demam hanya bila disuntikkan intramuskular (bukan intravena)
sindrom adrenogenital dan demam yang tidak diketahui penyebabnya
Infeksi
Infeksi Bakteri
pneumonia, bronkitis, osteomyelitis, appendisitis, tuberculosis, bakteremia, sepsis, bakterial gastroenteritis, meningitis, ensefalitis, selulitis, otitis media, infeksi saluran kemih, dan lain-lain
Infeksi Virus
viral pneumonia, influenza, demam berdarah dengue, demam chikungunya, dan virus-virus umum seperti H1N1
infeksi jamur
coccidioides imitis, criptococcosis, dan lain-lain
Infeksi parasit
malaria, toksoplasmosis, dan helmintiasis
Non-Infeksi
faktor lingkungan
suhu lingkungan yang eksternal yang terlalu tinggi, keadaan tumbuh gigi, dl
penyakit autoimun
arthritis, systemic lupus erythematosus, vaskulitis, dll
keganasan
Penyakit Hodgkin, Limfoma nonhodgkin, leukemia, dll
pemakaian obat-obatan
antibiotik, difenilhidantoin, dan antihistamin
efek samping dari pemberian imunisasi selama ±1-10 hari
gangguan sistem saraf pusat
perdarahan otak, status epileptikus, koma, cedera hipotalamus dan gangguan lainya
Pirogen mikrobial
Bakteri Gram Positif
Mekanisme yang bertanggung jawab terjadinya demam yang disebabkan infeksi Pneumokokus diduga proses imunologik.
Bakteri Gram Negatif
Endotoksin gram negatif tidak selalu merangsang terjadinya demam
Virus
Melakukan invasi langsung ke dalam makrofag, reaksi imunologis terhadap komponen virus termasuk diantaranya pembentukan antibodi, induksi oleh interferon dan nekrosis sel akibat virus.
Jamur
Produk jamur baik mati maupun hidup memproduksi pirogen eksogen yang akan merangsang terjadinya demam
LO 4 : PATOFISIOLOGI DEMAM
PIROGEN EKSOGEN : toksin/mediator inflamasi/reaksi imun
menstimulasi sel darah putih (monosit/limfosit/neutrofil)
sel darah putih mengeluarkan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF alfa, dan IFN)
pirogen eksogen&endogen merangsang endotelium hipotalamus
membentuk prostaglandin
prostaglandin meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus
hipotalamus menganggap suhu skrg lebih rendah dari patokan
memicu mekanisme meningkatkan panas
1 more item...
LO 5 : FAKTOR RESIKO
• Anak-anak lebih berisiko mengalami demam.
• Kontak dengan orang yang sedang sakit.
• Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman.
• Sistem kekebalan tubuh lemah.
Lingkungan Rumah
Nutrisi
Riwayat Imunisasi
• Perkembangan terlambat
• Problem pada masa neonatus
• Anak dalam perawatan khusus
• Kadar natrium rendah
LO 6 : PENATALAKSANAAN
TATALAKSANA UMUM
Anamnesis : wawancara dilakukan dengan pihak keluarganya (ibunya/orang terdekat) karena anak belum mengerti tentang apa yang ia rasakan
Pemeriksaan fisik: tanda vital dan pemeriksaan fisik kompehensif dan terfokus (wajah, tenggorokan, dada, perut)
Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, serta fungsi koagulasi (PT dan aPTT).
NON FARMAKOLOGIS
Anak demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal
Pakaian anak diusahakan tidak tebal (tipis)
Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air meningkat
Memberikan kompres
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan
Ada 2 jenis kompres yaitu kompres hangat dan kompres dingin
Kompres hanya efektif dalam 15-30 menit pertama. Kompres tidak dianjurkan sebagai terapi utama karena hanya menurunkan panas melalui evaporasi dari permukaan tubuh, tetapi tidak memberi efek pada pusat termoregulasi.
FARMAKOLOGIS
Paracetamol
Obat pilihan pertama untuk menurunkan suhu tubuh.
Parasetamol 10- 15 mg/kgBB per dosis setiap 4-6 jam sudah terbukti aman dan efektif
Onset sekitar 30- 60 menit, Penurunan suhu (1,2 – 1,4oC)
Paracetamol bukan untuk menormalkan suhu namun untuk menurunkan suhu tubuh.
Kontraindikasi diberikan pada bayi < 2 bualn
Efek samping parasetamol antara lain : muntah, nyeri perut, reaksi, alergi berupa urtikaria (biduran), purpura (bintik kemerahan di kulit karena perdarahan bawah kulit), bronkospasme (penyempitan saluran napas), hepatotoksik dan dapat meningkatkan waktu perkembangan virus seperti pada cacar air (memperpanjang masa sakit).
Ibuprofen
Pilihan kedua pada demam, bila alergi terhadap parasetamol dan efek penurun demam lebih cepat dari parasetamol
Ibuprofen diberikan ulang dengan jarak antara 6-8 jam dari dosis sebelumnya
Dosis 5mg/Kg BB (bekerja maksimal dalam waktu 1 jam dan berlangsung 3-4 jam)
Ibuprofen memiliki efek samping yaitu mual, muntah, nyeri perut, diare, perdarahan saluran cerna, rewel, sakit kepala, gaduh, dan gelisah. Pada dosis berlebih dapat menyebabkan kejang bahkan koma serta gagal ginjal.
Terapi Kombinasi (Paracetamol+Ibuprofen)
Antipiretik dapat diberikan sebagai terapi tunggal (parasetamol saja atau ibuprofen saja), kombinasi (parasetamol+ibuprofen bersamaan), ataupun kombinasi bergantian (parasetamol kemudian dilanjutkan ibuprofen setelah beberapa jam)
Pada beberapa studi, terdapat hasil cukup konsisten terapi kombinasi lebih baik, khususnya dalam 4-6 jam pertama.
Kombinasi parasetamol dan ibuprofen lebih efektif menurunkan suhu tubuh dibandingkan terapi tunggal; tetapi belum dapat direkomendasikan untuk praktik sehari-hari karena kurangnya bukti/studi yang cukup kuat terhadap outcome klinis anak
Obat lainnya
Aspirin : Tidak direkomendasikan sebagai antipiretik pilihan pertama karena dikaitkan dengan sindrom Reye. Hindari memberi aspirin pada anak yang menderita cacar air, demam dengue dan kelainan hemoragik lainnya
Antipiretik : Pilihan pertama dan sangat berguna pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan kardiopulmonal kronis, kelainan metabolik, penyakit neurologis dan pada anak yang berisiko kejang demam.
Asetaminofen : Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari. Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari. Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi dan kerusakkan hepar. Secara peroral maupun rektal.
Turunan asam propionate : Menekan pembentukan prostaglandin. Bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek samping : mual, perut kembung dan perdarahan. Efek samping berat: agranulositosis, anemia aplastic, gagal ginjal akut.
Metamizole (antalgin): Menekan pembentukkan prostaglandin. Efek samping: agranulositosis, anemia aplastik dan perdarahan saluran cerna. Dosis terapeutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6-8 jam dan tidak dianjurkan untuk anak kurang dari 6 bulan. Pemberiannya secara per oral, IM atau IV
Asam mefenamat : Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik. Efek : dispepsia dan anemia hemolitik. Dosis : 20 mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Per oral dan tidak boleh diberikan anak usia<6 bulan.
PURPURA DAN PETEKIE
Pengertian
Purpura: perdarahan pembuluh darah kecil berupa bercak merah pada kulit dan mukosa dengan ukuran >2mm
Petekie biasanya berukuran lebih kecil (1–2 mm)
Purpura dan petekie bukan merupakan suatu diagnosis, melainkan salah satu manifestasi dari berbagai keadaan.
Penyebab Pada Anak
Penyakit Infeksi: disebabkan oleh penyakit infeksi akibat bakteri atau virus.
Penyebab Mekanik: trauma fisik pada kapiler. Keadaan ini dapat ditandai dengan adanya riwayat trauma sebelum munculnya petekie.
Immune Thrombocytopenic Purpura (ITP)
Koagulopati: Gangguan koagulasi akibat gangguan pada faktor pembekuan primer (trombosit dan pembuluh darah)
Leukemia Akut
Hemolytic-Uremic Syndrome (HUS)
TATALAKSANA SESUAI KASUS
Penatalaksanaan purpura dan petekie pada anak disesuaikan dengan penyakit yang mendasari.
Pada anak dengan demam atau riwayat demam yang disertai dengan petekie atau purpura curiga disebabkan oleh infeksi bateri/ virus
Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang agar diagnosis dapat ditegakkan dan terapi dapat diberikan sesuai penybab virus/ bakteri yang spesifik.
TATAKSANA PNEUMONIA
Pneumonia ringan
Diagnosis
Di samping batuk atau kesulitan bernapas, hanya terdapat napas cepat saja. Napas cepat:
Pada anak umur 2 bulan – 11 bulan: ≥ 50 kali/menit
pada anak umur 1 tahun – 5 tahun : ≥ 40 kali/menit
Pastikan bahwa anak tidak mempunyai tanda-tanda pneumonia berat
Tatalaksana
Anak di rawat jalan
Beri antibiotik: Kotrimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari atau Amoksisilin (25 mg/kg BB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari. Untuk pasien HIV diberikan selama 5 hari.
Tindak lanjut
Anjurkan ibu untuk memberi makan anak. Nasihati ibu untuk membawa kembali anaknya setelah 2 hari, atau lebih cepat kalau keadaan anak memburuk atau tidak bisa minum atau menyusu.
Jika pernapasannya membaik (melambat), demam berkurang, nafsu makan membaik, lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 3 hari.
Jika frekuensi pernapasan, demam dan nafsu makan tidak ada perubahan, ganti ke antibiotik lini kedua dan nasihati ibu untuk kembali 2 hari lagi.
Jika ada tanda pneumonia berat, rawat anak di rumah sakit dan tangani sesuai pedoman di bawah ini
Pneumonia berat
Diagnosis
Kepala terangguk-angguk, Pernapasan cuping hidung, Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
Foto dada menunjukkan gambaran pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi, dll)
Napas cepat:
oAnak umur < 2 bulan : ≥ 60 kali/menit
oAnak umur 2 – 11 bulan : ≥ 50 kali/menit
oAnak umur 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali/menit
oAnak umur ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali/menit
Suara merintih (grunting) pada bayi muda
Pada auskultasi terdengar: Crackles (ronki), Suara pernapasan menurun, Suara pernapasan bronkial
Tatalaksana
1)Anak dirawat di rumah sakit
2)Terapi Antibiotik
3)Terapi Oksigen
Perawatan penunjang
Bila anak disertai demam (> 39º C) yang tampaknya menyebabkan distres, beri parasetamol.
Bila ditemukan adanya wheeze, beri bronkhodilator kerja cepat
Bila terdapat sekret kental di tenggorokan hilangkan dengan alat pengisap secara perlahan.
Pastikan anak memperoleh kebutuhan cairan rumatan sesuai umur anak. Anjurkan pemberian ASI dan cairan oral. Jika anak tidak bisa minum, pasang pipa nasogastrik dan berikan cairan rumatan dalam jumlah sedikit tetapi sering.
Bujuk anak untuk makan, segera setelah anak bisa menelan makanan.
Pemantauan
Anak harus diperiksa oleh perawat paling sedikit setiap 3 jam dan oleh dokter minimal 1 kali per hari. Jika tidak ada komplikasi, dalam 2 hari akan tampak perbaikan klinis (bernapas tidak cepat, tidak adanya tarikan dinding dada, bebas demam dan anak dapat makan dan minum).
Komplikasi
Pneumonia Stafilokokus
Empiema
TATALAKSANA DBD
1) Fase demam
Pada fase demam, penurunan suhu dapat dilakukan dengan pemberian antipiretik, paracetamol 10 mg/Kg BB/ hari jika demam >39oC setiap 4-6 jam. Untuk
Pemberian nutrisi yang lebih disukai adalah makanan lunak
Konsumsi susu, jus buah dan air yang adekuat
Terapi simptomatis : antikonvulsan untuk kejang demam.
Pemberian cairan melalui injeksi intravena
Pengawasan tanda kegawatan yang mengarah ke DSS
2) Fase Kritis
Derajat I dan II
Hari 3 - 5 dianjurkan rawat inap.
Pemantauan TTV setiap 1 - 2 jam
Pemeriksaan kadar hematokrit setiap 4 - 6 jam
Pencatatan tanda vital, hasil hemoglobin, hematokrit, intake output dan pemeriksaan fisik. Pemberian cairan isotonik seperti Ringer Laktat, Ringer Asetat dan sebagainya.
Derajar III dan IV
Pemberian terapi oksigen pada pasien DSS
Penggantian awal cairan IV dengan larutan kristaloid 20 ml/Kg BB dengan tetesan secepatnya (bolus selama 10 menit)
Resusitasi diganti dengan koloid 10-20 ml/kg BB selama 10 menit bila DSS belum teratasi
Setelah terjadi perbaikan, maka resusitasi kembali menggunakan kristaloid
Pemeriksaan laboratorium pada pasien DBD dengan komplikasi : analisis gas darah, fungsi hati, dan fungsi ginjal.
3) Fase Pemulihan
Penghentian cairan intravena dan pasien disarankan untuk beristirahat. Bila terjadi overload cairan maka diberikan diuretik furosemid 1 mg/Kg BB/ dosis, setelah sebelumnya dilakukan pemasangan kateter urin.
LO 7 : JADWAL DAN MACAM BOOSTER
• Varisela
• Dosis 1 (0,5 ml subkutan) diberikan untuk anak usia 12-15 bulan.
• Dosis 2 (0,5 ml subkutan) diberikan untuk anak usia 4-6 tahun, dosis tunggal.
• Jika usia >13 tahun maka interval minimum pemberian vaksin dosis 1 dan 2 adalah 4 minggu.
• Tifoid
Oral Ty21a1. : Dosis: 4 dosis diberikan 1 tablet/hari dengan selang waktu 48 jam, Booster: dilakukan setiap 5 tahun
• Injeksi Polisakarida (ViPS) : Dosis: 1 dosis (0,5 mL), IM di otot deltoid , Level protektif setelah 2–3 minggu pemberian, Booster: dilakukan tiap 3 tahun , Kontraindikasi: hipersensitif terhadap vaksin, ibu hamil, dan anak <2 tahun.Jika sedang demam, pemberian vaksin sebaiknya ditunda dan untuk ibu menyusui perlu dikonsultasikan ke dokter
• Injeksi Terkonjugasi (TCV) : Dosis: 0.5 mL dosis tunggal TCV-
• Injeksi Kombinasi dengan Vaksin Hepatitis A : Dosis: Dosis pertama diberikan 1 mL vaksin kombinasi (IM di deltoid), Level protektif setelah 2–3 minggu pemberian, Booster: setiap 3 tahun, selanjutnya booster hepatitis A diberikan bukan kombinasi (single dose) sesuai jadwalnya, Kontraindikasi: keadaan hipersensitif terhadap komponen vaksin, ibu hamil, dan ibu menyusui
• MMR (Measless,Mumps,Rubella)
• 1 dosis pada usia 9-12 bulan
imunisasi lanjutan dengan dosis booster (2 dosis) pada usia 18-24 bulan dan kelas 1 SD.
• Pneumokokus (PVC)
• Diberikan kali pertama saat bayi berusia 2, 4, dan 6 bulan.
• Setelah itu, booster diberikan pada usia 12 bulan dan 15 bulan.
• Apabila imunisasi baru diperoleh anak ketika berusia 7-12 bulan, vaksin diberikan sebanyak 2 kali, dengan interval vaksin kedua dilakukan 2 bulan setelah vaksin pertama.
• Jika vaksin baru diberikan saat anak berusia lebih dari 1 tahun, maka vaksin hanya diberikan 1 kali.
• Keduanya perlu diberikan booster setelah bayi berusia 12 bulan, atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir.
• Pada anak yang berusia di atas 2 tahun, imunisasi dilakukan hanya satu kali.
• Influenza
• Usia 6-35 bulan : belum pernah divaksin maka diberikan 0,25 ml IM dan diulang 4 minggu kemudian dg dosis yang sama. Apabila pernah vaksin maka diberikan 0,25 ml IM.
• Usia 3-8 tahun : belum pernah divaksin maka diberikan 0,5 ml IM dan diulang 4 minggu kemudian dg dosis yang sama. Apabila pernah vaksin maka diberikan dosis 0,5 ml IM.
• Usia >9 tahun : tidak melihat riwayat imunisasi sebelumnya diberikan dengan dosis 0,5 ml IM.
MINDMAP KELOMPOK A2 PSKB A 2018