Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Pneumonia et Causa COVID 19 - Coggle Diagram
Pneumonia et Causa COVID 19
Pneumonia, merupakan suata peradangan akut parenkim paru yg disebabkan oleh Mo (Bakteri, Virus, Jamur dan Parasit)
Coronavirus disease 2019 (COVID19), Pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei Tiongkok
Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif, berkapsul dan tidak bersegmen. Coronavirus merupakan tergolong ordo Nidovirales, keluarga coronaviridae.
Faktor Risiko dan Etiologi
Riwayat kontak langsung dengan penderita Covid 19 atau
Penyakit komorbit, Riwayat penyakit Kardiovaskular (Hipertensi), Penyakit paru (ASMA, PPOK, DLL), immunocompromise (HIV/AIDS, DM) DLL
Gaya hidup yg tidak bersih atau Higenitas yg kurang
Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 batuk atau bersin
Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19
Patogenesis & Patofisiologi COVID 19
Virus > Ke sel host diperantarai oleh Protein S yang berada di permukaan virus
>>
Protein S berikatan dgn reseptor di sel host yaitu enzim ACE-2 (angiotensin-converting enzyme 2). Sekuens dari RBD (Reseptor- binding domain) termasuk RBM (receptor-binding motif) pada SARS- CoV-2 kontak langsung dengan enzim ACE-2.
>>
selanjutnya translasi replikasi gen dari RNA genom virus. Selanjutnya replikasi dan transkripsi dimana sintesis virus RNA melalui translasi dan perakitan dari kompleks replikasi virus.
>>
Virus SARS-COV akan masuk ke sal napas atas > replikasi di sel epitel sal napas atas > menyebar sampai ke sal napas bawah
Virus tsb juga berdeposit di masal dam mukus membran pharengeal > virus mulai berpoloferasi dengan cepat.
CMD
Anamnesis
Demam (> 38°C) atau riwayat demam, batuk atau flue, atau nyeri tenggorokan
Pneumonia ringan S/D berat
Memiliki riwayat perjalanan ke Tiongkok atau wilayah/negara yg terjangkit *dalam 14 hari sebelum timbul gejala.
Petugas kesehatan atau orang yg merawat pasien dgn gejala ISPA berat yg tdk diketahui etiologi penyakitnya, tanpa memperhatikan riwayat berpergian.
Kontak erat dgn pasien kasus terkonfirmasi atau probable COVID 19
Pem. Fis
Manifestasi Klinis
Gejala klinis utama
Demam > 38°C, Batuk dan kesulitan bernapas
>>
Sesak napas memberat
Mialgia
Fantigue
Gejala Gastrointestinal (Diare) dan
Gejala saluran napas.
Diagnosa Banding
pneumoni
ISPA
TBC
Pemeriksaan Penunjang
Pecitraan
Foto Toraks
Gambaran Pneumonia
CT Scan toraks
Opasitas ground-glass (GGO)
DPL
Leukopenia atau normal, Limfopenia, Monositosis
RT-PCR
Swab tenggorokan, sputum
Rapit antigen
Struktur virus Corona
Coronavirus termasuk kedalam family virus Corinaviridae ordo Nidovirales.
Corona (Mahkota) memiliki struktur berupa Protein
Spike
(Protein S) yg berlokasi dipermukaan virus. Protein S merupakan salah satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama penulisan gen.
Memiliki diameter 120-160 nm, dan termasuk virus RNA
Memiliki selubung berupa envelope dan membrane glycoprotein.
Spike Protein (S-Protein) dapat menempel pd protein Angiotensinconverting enzyme 2 (ACE2).
Klasifikasi Berdasarkan Keparahannya
Tidak Berkomplikasi
Gejala tdk spesifik (gejala umum)
>>
Demam, batuk dpt disertai nyeri tenggorokan, kongesti hidung, malaise, sakit kepala dan nyeri otot.
Pasien usia lanjut dan pasien Immunocompeomises
>>
Gejala tdk khas (Atipikal).
Beberapa kasus, tdk disertai demam dan gejala relatif ringan.
Pada kondisi ini pasien tdk memiliki gejala komplikasi ; dehidrasi sepsis, atau napas pendek.
Pneumoni Ringan
Gejala utama
>>
Batuk, demam dan sesak.
Pada anak dgn pneumonia tdk berat
>>
Batuk atau sulit bernapas
Pneumoni Berat
Pasien dewasa
Gejala yg muncul
Demam, atau curiga adanya Infeksi saluran napas.
Tanda yg mucul ; Takipnea (f.n : > 30x/menit), distress pernapasan berat atau saturasi O2 pasien < 90% udara luar.
Tatalaksana
tatalaksana umum
Suplementasi O2, Kepda pasien dgn; distress napas, hipoksemia atau syok.
Terapi O2 pertama sekitar 5L/menit dgn target SpO2 > 90% pda pasien tdk hamil dan > 92-95% pada pasien hamil.
Isolasi pd semua kasus, sesuai dgn gejala klinis yg muncul, baik ringan maupun sedang.
Indetifikasi segera dan pisahkan pasien dgn Severe acute respiratory infection (SARI) dan Implementasi pencegahan dan penanganan infeksi (PPI).
Pemberian antibiotik empiris
Terapi simptomatik, antipiretik, obat batuk dll + Vitamin
Observasi ketat
Pahami Komorbid pasien.
Pemberian kortikosteroid sistemik tdk rutin diberikan pd tatalaksana pneumonia viral atau ARDS selain ada indikasi lain.
Edukasi
membatasi mobilisasi orang yang berisiko hingga masa inkubasi.
meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan makanan sehat.
meperbanyak cuci tangan (meningkatkan higenistas).
menggunakan masker bila berada di daerah berisiko atau padat.
berjemur di bawah sinar matahari dan melakukan olah raga
istirahat cukup serta makan makanan yang dimasak hingga matang dan bila sakit segera berobat ke RS rujukan untuk dievaluasi.
Transmisi COVID 19
Prinsip penyabaran lewat droplet, terdiri dari droplet besar dan droplet kecil.
Transmisi kontak > via kontak langsung (berjabat tangan).
Transmisi droplet > transmisi via droplet yang dikeluarkan penderita.
Tranmisi airborne > transmisi via droplet kecil yang dapat bertahan di udara dalam beberapa jam.
*Transmisi airborne pd situasi:
Ruangan tertutup
Paparan jangka panjang (bernyanyi, berolahraga bersama)
Ventilasi yang tidak adekuat
Komorbit X Covid 19
Hipertensi, DM, Asma, PPOK DLL
Ex. Hipertensi
Beberapa penelitian menunjukkan penyakit komorbid hipertensi dapat memperparah prognosis COVID 19 disebabkan karena konsumsi obat ACE inhibitor dan ARB sebagai intervensi obat hipertensi ternyata dapat memperparah COVID 19. Hal ini akan memperburuk kondisi pasien COVID 19 dan meningkatkan, risiko morbiditas dan mortalitas COVID 19.
ACE inhibitor akan memudahkan virus masuk ke dalam sel dan replikasi yang diakibatkannya.
ARB akan menumpulkan AT2 sehingga akan menyebabkan dampak pemicu peradangan dan reaktivitas imun akut di paru paru.
Komplikasi dan Prognosis
Prognosis
Hingga saat ini mortalitas mencapai 2% tetapi jumlah kasus berat mencapai 10%. Prognosis bergantung pada derajat penyakit, ada tidaknya komorbid dan faktor usia.
Komplikasi
-Komplikasi akibat penggunaan ventilasi mekanik invasif (IMV) yang lama.
Ventilator-associated pneumonia (VAP).
Tromboemboli vena
Catheter-related bloodstream.
Stres ulcer dan pendarahan saluran pencernaan.
Kelemahan akibat perawatan di ICU.
Komplikasi lainnya selama perawatan pasien.