Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
DIFTERI - Coggle Diagram
DIFTERI
Definisi, etiologi, faktor resiko
Def
Difteri adalah penyakit menular yang dapat disebarkan melalui batuk, bersin, atau luka terbuka. Gejalanya termasuk sakit tenggorokan dan masalah pernapasan. Penyebab utama difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit.
Et
Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Infeksi ini dapat menular melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri. Selain penularan difteri juga bisa terjadi melalui air liur seseorang. Bahkan jika orang yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda atau gejala difteri, mereka masih dapat menularkan bakteri hingga enam minggu setelah infeksi awal.
Fr
-
Sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS;
-
-
-
-
-
Edukasi dan pencegahan
Pencegahan
-
Pastikan anak menerima imunisasi DPT, yaitu pemberian vaksin difteri yang dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). Imunisasi DPT merupakan salah satu imunisasi wajib di Indonesia yang diberikan pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta usia 5 tahun.
-
Konsultasikan dengan dokter jika anak belum mendapatkan vaksin DPT, terutama jika sudah berusia lebih dari 7 tahun. Dokter akan memberikan vaksin Tdap.
-
Selain untuk mengatasi difteri, antibiotik juga dapat diberikan pada orang yang kontak dekat dengan penderita sebagai pencegahan.
Edukasi
Pasien yang telah didiagnosis menderita difteri perlu diedukasi mengenai pentingnya isolasi dan pembatasan kontak dengan masyarakat umum hingga dibebaskan oleh dokter yang bertugas. Pasien yang terinfeksi difteri, baik yang bergejala maupun tidak, dapat menularkan selama 4 minggu. Transmisi bisa melalui kontak langsung dengan lesi kulit atau inhalasi droplet. Infeksi juga bisa terjadi melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi. Pasien perlu melaporkan riwayat kontak erat dengan keluarga atau orang terdekat. Jika ada kontak erat, sebaiknya segera menghubungi petugas kesehatan untuk dilakukan pelacakan kontak erat
Edukasi penyakit difteri yang terpenting adalah mengenai vaksin difteri karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Lakukan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai jadwal imunisasi difteri dan ajak masyarakat agar secara aktif mengikuti jadwal imunisasi dengan tepat.
-
DD nyeri menelan
Tonsilitis
Salah satu penyakit yang ditandai dengan sakit di tenggorokan dan kesulitan dalam menelan adalah tonsillitis alias radang tenggorokan. Pada kondisi ini, amandel mengalami peradangan atau inflamasi. Kondisi ini umum menyerang anak-anak, tetapi juga bisa terjadi pada orang dewasa.
Faringitis
Radang tenggorokan atau faringitis juga bisa memicu tenggorokan sakit saat menelan makanan dan minuman. Kondisi ini terjadi akibat adanya peradangan pada saluran yang menghubungkan hidung atau mulut dengan kerongkongan (esofagus) atau saluran pita suara (laring).
Laringitis
Laringitis merupakan penyakit yang terjadi karena adanya peradangan pada laring, yaitu kotak pita suara di dalam tenggorokan. Penyakit ini memiliki gejala berupa sakit pada tenggorokan, batuk, demam, serta suara serak, atau kehilangan suara sama sekali.
Epiglotitis
Penyakit ini terjadi karena ada peradangan pada katup yang memisahkan saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Peradangan pada bagian ini sering ditandai dengan nyeri pada tenggorokan
CMD
Pemfis
- Tonsilitis dan faringitis (94%)
- Membran pada tempat infeksi berwarna putih keabu- abuan, mudah berdarah bila diangkat.
- Dapat tampak toksik dan sakit berat meskipun demam tidak tinggi, pucat, tanda syok, tanda kesulitan menelan
Anamnes
-
-
-
-
-
- Riwayat imunisasi tidk lengkap
- Kontak erat dengan kasus difteri
-
-
- Kontak dgn sekret nasofaring (resusitasi tanpa APD)
- Individu seruang dengan penderita dalam waktu > 4
jam selama 5 hari berturut-turut atau > 24 jam dalam seminggu (teman sekelas, teman satu kamar, teman mengaji, les, teman satu jemputan)
Pp
Moloney test :
Menentukan sensitivitas terhadap produk kuman difteri. Tes dilakukan dengan memberikan 0,1 ml larutan fluid diphtheri toxoid secara suntikan intradermal. Reaksi positif bila dalam 24 jam timbul eritema >10 mm.
Schick test :
Menentukan kerentanan (suseptibilitas) terhadap difteri. Tes dilakukan dengan menyuntikan toksin difteri (dilemahkan) secara intrakutan. Bila tidak terdapat kekebalan antitoksik akan terjadi nekrosis jaringan sehingga test positif.
-
Klasifikasi
Suspek difteri :
- orang dgn gejala faringitis tonsilitis, laringitis, trakeitis (atau kombinasi)
- tanpa demam atau kondisi sub febris
- disertai adanya psudomembran putih keabu-abuan /
-
Probable difteri :
- orang dengan gejala laringitis, nasofaringitis atau tonsilitis
- ditambah pseudomembarn putih keabu-abuan yg tak mudah
-
mudah berdarah di faring, laring, tonsil ditambah salah satu dari :
-
b. Status imunisasi tidak lengkap, termasuk belum dilakukan
-
-
d. Gagal jantung, toksik, gagal ginjal akut
-
-
-
Koplikasi dan prognosis
Komplikasi
-
-
-
Kerusakan saraf
Racun juga dapat menyebabkan kerusakan saraf pada tenggorokan. Saraf yang mengalami masalah ini bisa menyebabkan kesulitan menelan. Racun juga bisa memengaruhi saraf bagian lengan dan kaki dan menyebabkan kelemahan otot. Ketika racun merusak saraf yang mengontrol otot pernapasan, otot-otot ini dapat menjadi lumpuh dan pengidapnya berisiko mengalami gagal napas.
-
Prognosis
Prognosis difteri bergantung dari beberapa faktor, yaitu usia, durasi onset, serta keterlibatan organ jantung atau sistemik. Komplikasi dapat terjadi, yakni miokarditis ataupun gangguan neurologis dan ginjal.[
Tatalaksana
Perawatan umum:
-
-
-
- Kebersihan jalan nafas dan pengisapan lendir 5. Monitor dengan alat elektrokardiografi
- Pembebasan jalan nafas, bila diperlukan tindakan trakeostomi
Pengobatan khusus:
Antimikroba
Pemberian antibiotika: Penisilin prokain dosis 1,2 juta unit dua kali sehari, intra muskuler selama 14 hari.
Alternatif: Eritromisin, Amoksisilin, Klindamisin, Rifampisin.
Anti toksin
- Difteri nasal / fausial ringan: 20.000-40.000 IU
- Difteri fausial sedang: 40.000-60.000 IU
- Difteri berat (bullneck dyphtheria): 80.000-120.000 IU
Anti toksin: diberikan sedini mungkin saat diagnosis dapat ditegakkan, tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan bakteriologis.