Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Benign Prostate Hyperplasia (BPH) (Erni Manik 2008260247) - Coggle Diagram
Benign Prostate Hyperplasia (BPH)
(Erni Manik 2008260247)
Diferetial Diagnose sulit berkemih
BPH ( benign prostate hyperplasia)
Prostatitis
CA prostate
infeksi saluran kemih (ISK)
striktur uretra
Definisi, etiologi dan faktor resiko
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah suatu keadaan dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urine dengan menutup orifisium uretra.
Etiologi:
berdasrakan beberapa teori : teori DHT, ke tidak seimbangkan antara esterogen dan testosteron, interaksi stroma-epitel, berkurangnya kematian sel prostat, teori stem sell
Faktor resiko:
Kadar hormon
usia
obesitas
Pola diet
Riwayat keluarga
Aktivitas seksual
kebiasaan merokok
Patofisologi BPH
Pertama kali BPH terjadi salah satunya karena faktor bertambahnya usia, dimana terjadi perubahan keseimbangan testosterone, estrogen, karena produksi testosterone menurun, produksi estrogen meningkat dan terjadi konversi testosterone menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Keadaan ini tergantung pada hormon testosterone, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Patogenesis BPH
Masalah pada hormon atau hormon terganggu
• peningkatan testosteron
•Peningkatan estrogen
Inflamasi dan disregulasi imun
metabolic sindrom
Ada respon simpatetik -> misalnya rasangan dari alpha-1-adrenergic, beta-3-adrenergic, dan muscarinic receptors -> akan meningkatkan tonus/tonus otot di bladder -> otot otot di bladder semakin overactive terhadap urin.
Cara mendiagnosa BPH
anamnesis : Gejala LUTS →Hitung IPSS (International Prostate Symptom Score), retensi urin
Pemeriksaan fisik:
pemeriksaan ginjal
pemeriksaan genitalia eksterna
3.pemeriksaan kandung kemih
rental toucher
pemeriksaan penunjang :
urinalisa
ureum, kreatinin
transabdominal-USG
IVP
USG transektal
Cytoscopy
tatalaksana
terapi konservatif
medikamentosa :
1.Alpha-1 blocker (terazosin, doksazosin, alfazosin, dan tamsulosin)
2.Penghambat 5α-reduktase (finasteride dan dutasteride)
3.Antagonis reseptor muskarinik (fesoterodine fumarate, propiverine HCl, tolterodine l-tartrate, dan solifenacin succinate)
4.Penghambat fosfodiesterase-5
Terapi kombinasi (Kombinasi α1-blocker dan penghambat 5α-reduktase)
Komplikasi, prognosis, edukasi dan pencegahan
prognosis: Prospek penderita BPH sangat baik. BPH tidak dapat disembuhkan, tetapi perawatan dapat membantu meringankan gejala
komplikasi:
Ketidakmampuan untuk buang air kecil mendadak (retensi urine).
Infeksi saluran kemih (ISK)
batu empedu
kerusakan kandung kemih
kerusakan ginjal
edukasi :
Berolahraga secara teratur, misalnya berjalan kaki hingga satu jam setiap hari.
Selalu menjaga dalam melakukan seks yang sehat
Jangan sering menahan kencing
pencegahan:
Obat-obatan dapat menimbulkan resiko munculnya BPH
Berat badan dan aktivitas fisik
tidak merokok
tidak meminum alkohol
pola diet yang benar