Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Permulaan Biologis - Coggle Diagram
Permulaan Biologis
2. Landasan Genetik dari Perkembangan
Gen dan kromosom
Gen adalah sebuah segmen dari DNA. Sedangkan kromosom adalah struktur seperti benang yang terletak di dalam nucleus dari sel.
Gen kolaboratif
Setiap gen memiliki lokasinya sendiri-sendiri, masing-masing lokasi merupakan tempat yang dirancang untuk kromosom tertentu. Genom manusia berisi banyak gen yang berkolaborasi satu sama lain dan juga dengan faktor-faktor nongenetik dari dalam dan luar tubuh manusia. Aktivitas gen-gen dipengaruhi oleh lingkungan seperti cahaya , jumlah jam dalam sehari, gizi, dan peilaku.
Prinsip-prinsip genetika
Prinsip gen dominan-resesif, gen dominan mengalahkan pengaruh potensial dari gen resesif. Gen resesif hanya menerapkan pengaruhnya apabila kedua gen dari satu pasangan sama-sama resesif.
Gen terkait jenis kelamin, laki-laki hanya memiliki sebuah kromosom X maka ketika kromosom X itu terdapat gen termodifikasi dan pencetus penyakit, laki-laki tidak memiliki kromosom X “cadangan” untuk mengatasi gen tersebut sehingga akan terus mewariskan penyakit terkait kromosom X. Sementara perempuan memiliki kromosom X kedua yang cenderung tidak berubah. Maka perempuan tidak cenderung mengidap penyakit terkait kromosom X.
Imprinting genetis, terjadi apabila gen-gen memiliki ekspresi yang berbeda, bergantung pada apakah gen-gen itu diwariskan dari ibu atau dari ayah.
Pewarisan poligenis, hanya sedikit karakteristik yang menceriminkan pengaruh dari sebuah gen atau satu pasangan gen daja. Sebagian besar ditentukan melalui interkasi dari berbagai gen; karakteristik seperti ini disebut sebagai ditentukan secara poligenis.
Abnormalitas kromosom dan abnormalitas terkait gen
Abnormalitas kromosom terkait jenis kelamin terjadi apabila pada seorang bayi melibatkan kehadiran sebuah kromosom ekstra (X atau Y) atau tidak adanya kromosm X pada perempuan. Sedangkan abnormalitas terkait gen ada Fenilketonuria yaitu gangguan genetic yang menyebabkan individu tidak dapat menjalankan metabolism asam amino secara baik. Selain itu terdapat Anemia Sel Sabit yaitu gangguan yang memengaruhi sel-sel darah merah dan paling sering muncul pada keturunan etnis Afrika.
1. Perspektif Evolusioner
Seleksi alam adalah proses evolusi yang menetapkan bahwa spesies-spesies yang paling dapat menyesuaikan diri akan menjadi spesies yang dapat bertahan hidup dan bereproduksi. Perilaku adaptif adalah perilaku yang mendukung kelangsungan hidup organisme di habitat alam.
Psikologi evolusioner mengedepankan pentingnya adaptasi, reproduksi, dan “survival of the fittest” dalam rangka membentuk perilaku. Menurut pandangan ini seleksi alam akan mendorong perilaku yang dapat meningkatkan keberhasilan reproduksi, kemampuan untuk mewariskan gen gen anda sendirikepada generasi selanjutnya.
3. Tantangan dan Pilihan Reproduksi
Tes-tes diagnostic prakelahiran
Terdapat sejumlah tes yang adapt memperlihatkan apakah janin berkembang secara normal, seperti ultrasound sonography, MRI janin, chorionic villus sampling, amniocentesis, tes darah ibu (material blood screening) dan diagnosis prakelahiran noninvasive.
Infertilitas dan teknologi reproduksi adopsi
Di Amerika Serikat sekitar 10-15% pasangan mengalami infertilitas, yaitu ketidakmampuan memiliki anak setelah 12 melakukan hubungan seks tanpa kontrasepsi. Akhirnya dipilih teknik in vitro fertilization (IVF) atau pembuahan in vitro penggabungan sperma dan telur di dalam cawan laboratorium.
Adopsi adalah proses sosial dan sah membentuk sebuah relasi orang tua-anak di antara orang-orang yang tidak memiliki hubungan biologis.
4. Interaksi Herediter-Lingkungan : Debat Mengenai Bawaan Pengasuhan
Genetika perilaku, yaitu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha menemukan pengaruh herediter dan lingkungan terhadap perbedaan sifat dab perkembangan yang terjadi secara individual. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peneliti ketika menginterpretasikan hasil studi anak kembar dan adopsi mencerminkan kompleksitas dari interaksi herediter-lingkungan
Korelasi genotip-lingkungan evokatif, korelasi yang muncul jika genotip anak membangkitkan jenis-jenis lingkungan tertentu
Korelasi genotip-lingkungan aktif (memasuki relung), korelasi yang terjadi ketika anak-anak mencari/memilih lingkungan yang mereka rasakan sesuai dan menggugah minat
Korelasi genotip-lingkungan pasif, korelasi yang terjadi ketika orang tua kandung yang memiliki hubungan genetic dengan anak, memberikan lingkungan pengasuhan tertentu untuk anak