Please enable JavaScript.
Coggle requires JavaScript to display documents.
Sibling Grief After Perinatal Loss (Hasil Penelitian (Banyak orang tua…
Sibling Grief After Perinatal Loss
Latar Belakang
Orang tua berjuang untuk mengatasi penderitaan mereka sendiri, dan mereka sering, tidak sengaja, mengabaikan hidup anak-anak mereka. Orang tua yang menarik kesakitan mereka sendiri mungkin gagal untuk memberikan anak-anak informasi yang mereka butuhkan untuk memahami kematian (Ostler, 2010) serta dinamika perubahan di rumah (Roose & Blanford, 201
Saudara di dalam keluarga yang berduka akibat kehilangan perinatal menderita dan memiliki dua kesedihan : meratapi saudara yang mereka harapkan dan meratapi orangtuanya yang berduka
Orang tua tidak pernah dipersiapkan untuk kesedihan yang intens yang terjadi akibat hilangnya bayi saat lahir, bahkan ketika mereka tahu sebelum lahir bahwa bayi tidak akan bertahan (Kuebelbeck & Davis, 2011).
Ketika lahir lalu usai, hal ini dapat merusak perasaan tidak hanya ibu dan ayah tetapi juga diri saudara dalam hubungannya dengan orang lain (Shainess, 1963; O'Leary & Thorwick, 2008).
Penelitian
Metode yang digunakan fenomenologi deskriptif stdui ilmiah yang bersal dari sudut pandang individu untuk memahami pengalaman secara sadar dari apa yang mereka ungkapkan atau ceritakan. Tujuan menggunakan ini untuk bisa mengeksplore dengan lebih jauh dan untuk mendapatkan wawasan dari pengalaman subjektif (Kockelmans, 1994).
Fokus dari penelitian ini adalah efek kehilangan saudara dan proses perkembangan mereka..
Dilakukan dengan wawancara audio dan direkam berlangsung selama sekitar satu sampai dua jam. Nama samaran yang digunakan untuk melindungi identitas peserta. Responden : orang dewasa yang lahir dalam keluarga setelah kehilangan perinatal.
Penelitian yang mempelajari kesedihan keluarga ketika menghadapi hilangnya perinatal (hilangnya anak sebelum lahir, saat lahir, atau segera setelah lahir).
Artikel ini menyajikan delapan studi kasus yang melihat cara yang berbeda di mana saudara dipengaruhi oleh hilangnya perinatal dan bagaimana orang tua mereka menangani kehilangan itu.
Hasil Penelitian
Banyak orang tua masih percaya anak-anak terlalu muda untuk memahami, terlalu muda untuk berduka, dan tidak perlu berbagi kesedihan yang dialami orang tua
kesedihan mereka menjadi diabaikan dan berpengaruh pada perkembangan emosional hidup anak-anak pada saat kehilangan
Kurangnya dukungan dan pesan yang sering didengar oorangtua adalah agar cepat "move on" dari kedukaan ini, tidak melihat bagaimana proses dari kehilangan
Komunikasi orangtua merupakan faktor utama dalam membantu anak-anak (Leon, 1986; Pettle & Britten, 1995)
Studi kasus ini menggambarkan pentingnya membimbing orang tua yang mengalami kehilangan bayi dan memberitahukan kepada anak bahwa mereka sebagai saudara juga akan berduka dan mendorong kesadaran apa yang bisa terjadi ketika kebutuhan saudara 'tidak kenali".
Dalam studi ini Davies (2006) menuliskan bahwa "membantu anak-anak memahami tidak hanya memberikan informasi tentang fakta dan peristiwa; itu juga memberikan informasi tentang perasaan, tentang apa yang diharapkan dan apa yang tidak diharapkan.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa konsekuensi-konsekuensi yang terjadi hingga jangka panjang tidak akan memberikan kekuatan kepada orang tua yang berduka
Contoh case (Barbara) : Barbara kehilangan dua saudaranya. Ia selalu memendam kesedihannya karena ia tidak mau menjadi emosional dan menangis dan Barbara menganggap bahwa orangtuanya tidak siap dan mampu mendengar rasa sakitnya.
Contoh case (Kakak Beth) : Lestie menjadi anak pengganti setelah saudaranya meninggal. Ibu menitipkan Lestie kepada kakek-nenek. Lestie tidak dapat melampiaskan kesedihan karena ia kehilangan haknya untuk berduka, dan tidak ada yang mengenali bahwa sebenarnya ia juga ikut berduka. Akibatnya, kesedihannya belum terselesaikan. Ketikamampuannya untuk bisa mengeluarkan kesedihannya berasal dari kurangnya keterikatan dengan ibunya yang masih bisa melepaskan kepergian anaknya.